Cahaya Bapak
Pada suatu subuh yang masih basah oleh sisa mimpi malam, ketika embun menggantung di ujung rumput seperti doa yang hampir lupa kepada siapa ia hendak disampaikan, aku duduk sendiri di tepi jendela rumah kecil kami. Udara pagi belum sepenuhnya lahir, masih seperti janin yang ragu apakah dunia cukup lembut untuk menyambutnya.
Di kejauhan, ayam berkukur dengan nada rendah yang terdengar seperti bisikan dari dunia yang lebih tua daripada ingatanku. Dan angin pagi bergerak perlahan, menyentuh wajahku seperti seorang ibu yang ingin memastikan bahwa anaknya masih bernafas dengan damai.
Saat itulah aku mendengar kalimat itu, kalimat yang kelak tidak hanya menghantui, tetapi mendidikku, membesarkanku, bahkan membangunkanku dari tidur yang paling panjang sekalipun. Kalimat yang tidak datang dari bibir manusia, tetapi dari tempat yang tidak dapat ditunjuk oleh jari dan tidak dapat digambarkan oleh bahasa.
“Tuhan menciptakan bapak agar manusia tahu,
bahwa wifi bisa hilang,
tapi ceramah tidak pernah padam.”
Suara itu tidak memecah keheningan. Ia justru menambahkan lapisan keheningan baru, keheningan yang begitu dalam sampai-sampai aku merasa seluruh dunia berhenti bergerak sekadar agar kalimat itu bisa jatuh utuh di dalam diriku.
Aku tidak melihat siapa yang mengucapkannya.
Aku tidak bertanya dari mana suara itu berasal.
Karena ada kata-kata yang tidak membutuhkan asal, sama seperti ada cahaya yang tidak membutuhkan matahari.
Kalimat itu seperti bayangan burung yang melintas di atas kepalaku tanpa burungnya sendiri pernah terlihat. Ia seperti bulir padi yang tiba-tiba muncul di telapak tangan seseorang yang tidak pernah menanam apa pun.
Aku menghela napas, dan entah bagaimana, rasanya seolah udara yang kuhirup telah berubah makna setelah mendengar kalimat itu. Subuh terasa lebih berat, namun sekaligus lebih ringan. Dunia tampak lebih asing, namun juga lebih akrab.
Aku menutup mata, membiarkan pikiranku mengembara ke tempat-tempat yang bahkan belum pernah kukunjungi. Dan di antara kabut itu, muncul wajah bapakku wajah yang kukenal sejak sebelum aku belajar mengenali diriku sendiri.
Bapakku.
Lelaki yang langkahnya sering terdengar sebelum tubuhnya muncul di pintu.
Lelaki yang senyumnya kadang temaram, tetapi suaranya selalu memiliki sayap.
Lelaki yang bisa membuat ruangan terasa penuh meski hanya duduk diam sambil menatap langit-langit.
Aku teringat bagaimana ia selalu berhasil membuat kata-kata bekerja untuknya.
Kadang dengan lembut.
Kadang dengan getir.
Dan kadang dengan cara yang membuatku bertanya-tanya apakah bapak adalah manusia atau hanya titipan angin yang kebetulan berhenti sebentar di dunia.
Tetapi di balik semua itu, ada satu hal yang selalu kupahami:
Bapak bukanlah orang yang banyak bicara.
Ia hanya bicara ketika dunia membutuhkannya.
Dan dunia, entah mengapa, selalu tampak membutuhkan bapak.
Mungkin karena itulah Tuhan menciptakan bapak.
Bukan untuk mengajarkan ilmu.
Bukan untuk memberi nasihat.
Bukan untuk mengatur langkah anaknya.
Tetapi agar manusia mengingat bahwa ada jenis cahaya yang tidak bergantung pada listrik, dan ada jenis pesan yang tidak membutuhkan koneksi apa pun untuk sampai ke hati.
Sebab wifi dapat hilang, sinyal dapat padam, jaringan dapat roboh seperti pohon tua yang dimakan waktu.
Namun ceramah, bukan ceramah dalam bentuk suara, melainkan ceramah dalam bentuk kehadiran tidak pernah padam.
Dan pada pagi itu, ketika matahari masih malu-malu di balik bukit dan pepohonan masih menyimpan sisa mimpi burung-burung yang belum terbang, aku mengerti sesuatu yang bahkan belum bisa kukatakan dengan kata-kataku sendiri.
Bahwa hidupku akan berjalan mengikuti kalimat itu.
Bahwa setiap hariku nanti akan menjadi upaya untuk memahami maknanya, seperti seseorang yang mencoba menangkap bayangannya sendiri di permukaan sungai.
Bahwa aku akan tumbuh bukan hanya sebagai anak seorang bapak, tetapi sebagai anak dari sebuah kalimat yang hidup lebih lama daripada napasku.
Subuh perlahan naik menjadi pagi.
Cahaya menembus jendela, mengubah debu di udara menjadi bintang-bintang kecil yang melayang tanpa gravitasi.
Dan aku, yang masih duduk di tepi jendela, merasakan hatiku berdenyut untuk pertama kalinya dengan cara yang baru.
Den yutan yang tidak hanya membawa darah, tetapi membawa pertanyaan.
Pertanyaan yang mengembara jauh, mencari jawaban yang mungkin hanya akan kutemukan ketika rambutku telah memutih dan lututku telah menjadi tua.
Di hari itulah, tanpa aku menyadarinya, aku mulai menulis novel ini.
Novel yang tidak kutulis dengan tangan, tetapi dengan hidupku sendiri.
Dan setiap babnya dimulai dari satu kalimat itu.
Kalimat yang seperti lilin kecil yang ditiup angin namun tidak pernah padam.
Kalimat yang kelak membawaku kepada bapakku, kepada diriku sendiri, dan kepada cahaya yang tidak pernah disebut dalam buku mana pun.
“Tuhan menciptakan bapak agar manusia tahu,
bahwa wifi bisa hilang,
tapi ceramah tidak pernah padam.”
Kalimat itu menjadi pintu.
Pagi di kampungku bukanlah sekadar pergantian waktu.
Ia adalah kelahiran kecil yang terjadi setiap hari.
Dan seperti setiap kelahiran, ia membawa getaran yang hanya dapat dipahami oleh hati yang masih mau mendengar.
Setiap pagi, sebelum ayam kedua berkokok
dan sebelum embun memutuskan jatuh dari helai daun,
bapak keluar dari rumah.
Ia tidak pernah keluar dengan tergesa.
Ia tidak pernah keluar dengan wajah murung.
Ia tidak pernah keluar dengan keluhan yang biasa diucapkan manusia ketika dunia tidak memihak mereka.
Bapak keluar dengan senyum.
Senyum yang tidak dibuat untuk memamerkan gigi atau menutupi luka,
tetapi senyum yang lahir dari seseorang yang telah lama berdamai
dengan hal-hal yang tidak dapat ia ubah.
Senyum itu seperti matahari kecil yang tidak membakar,
tetapi menghangatkan pelan-pelan.
Senyum yang membuatku merasa,
bahwa bahkan bila seluruh dunia runtuh,
bapak akan tetap berdiri setidaknya dalam caraku melihatnya.
Kami tinggal di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu yang mulai menua.
Papan-papannya sering berderit bila diinjak,
seolah setiap langkah manusia adalah sebuah rahasia
yang sedang mereka coba tafsirkan.
Atapnya sebagian besar masih kuat,
tetapi ada satu bagian yang selalu bocor setiap hujan,
dan bapak selalu berkata:
“Biarkan rumah mengingat bahwa dunia pernah meneteskan air mata.”
Hal-hal kecil seperti itu membuatku mengerti:
bapak bukan hanya melihat dunia,
ia membacanya.
Dan ia membaca dunia seperti orang yang membaca kitab suci—
pelan, penuh hormat,
tidak pernah terburu-buru,
dan selalu menemukan sesuatu yang baru pada halaman yang sama.
Ketika ia duduk, ia akan menatap langit.
Namun ia tidak menatap langit seperti orang yang menunggu hujan.
Ia menatap langit seperti seseorang
yang sedang mengingat sesuatu
yang pernah ia tinggalkan di sana.
Kadang aku bertanya dalam hati:
apakah bapak punya masa lalu yang disimpan awan?
apakah ia pernah menitipkan mimpinya pada angin?
apakah ia pernah menjadi seseorang
yang tidak pernah diceritakannya padaku?
Sebab ketika ia menatap langit,
ada sesuatu dalam dirinya yang pulang ke tempat
yang tidak dapat kucapai dengan imajinasi mana pun.
Jika kau pernah mendengar suara langkah bapakku,
kau akan mengira ia memikul seluruh dunia
namun memilih untuk tidak membiarkan dunia itu jatuh.
Langkahnya tidak cepat,
namun tidak pula lambat.
Langkah itu seperti ritme kuno
yang tidak diciptakan oleh manusia,
melainkan diwariskan oleh bumi itu sendiri.
Setiap kali aku mendengar langkahnya,
aku merasa seperti sedang membaca puisi tanpa huruf.
Dan mungkin itulah sebabnya
aku belajar memahami makna
bahkan dari hal-hal yang tidak diucapkan.
Bapak jarang marah.
Kalau pun ia marah,
amarahnya seperti angin semilir yang mencoba mengagetkan tirai
namun akhirnya hanya berhasil membuatnya menari.
Ia tidak pernah berteriak.
Ia tidak pernah mengancam.
Ia tidak pernah memukul meja atau membanting pintu.
Ada jenis otoritas
yang tidak perlu pengeras suara.
Itulah jenis otoritas yang dimiliki bapak.
Yang lucu adalah ini:
di rumah kami, wifi lebih sering mati daripada hidup.
Sinyal sering hilang,
router sering berkedip tak berirama,
dan kadang aku mengira
bahwa benda itu hanya hidup untuk mengejek kesabaranku.
Namun ketika wifi padam,
bapak justru hidup.
Saat aku resah,
bapak tenang.
Ketika aku gelisah mencari sinyal,
bapak menemukan kedamaian
di dalam ketidakterhubungan.
“Sinyal bukan jembatan yang paling penting, Nak," katanya.“Jembatan yang menghubungkan manusia adalah hati yang bersih.Wifi hanya menghubungkan ponselmu.”
Dan ketika wifi benar-benar mati,
bapak mulai berbicara perlahan,
seperti orang yang menghitung bintang
tanpa ingin melewatkan satu pun.
Ia berbicara tentang dunia,
tentang manusia,
tentang rahasia alam,
tentang kehendak Tuhan,
tentang tujuan hidup,
tentang hal-hal yang bahkan aku tidak meminta untuk dipelajari.
Kadang aku merasa
ceramah bapak tidak dilahirkan dari pikiran,
melainkan dari pengalaman panjang
yang pernah ia sembunyikan dari dunia.
Dan aku tidak pernah bisa menghentikannya.
Bukan karena aku takut,
tetapi karena aku tahu
kata-kata itu bukan untuk meramaikan ruangan,
melainkan untuk mengisi kekosongan
yang bahkan aku belum sadar aku punya.
Ada hal yang hanya dapat dipahami
setelah kita tumbuh lebih tinggi dari bayangan kita sendiri.
Dan salah satunya adalah ini:
Bapak menanam cahaya di dalam diriku
tanpa pernah mengatakan bahwa ia sedang menanam apa-apa.
Ia menanamnya lewat senyumnya,
lewat diamnya,
lewat langkahnya,
lewat caranya melihat dunia,
lewat kelembutannya,
lewat tegasnya,
lewat nasihat yang disampaikan
tanpa pernah menggurui.
Ia menanam cahaya itu
seperti seorang petani yang menanam bibit
lalu membiarkannya tumbuh dengan kesabaran
yang tidak dimiliki oleh banyak manusia.
Dan ketika aku tumbuh,
aku menemukan cahaya itu sudah tinggal di dalam diriku
seperti penghuni yang tidak pernah meminta kunci.
Namun, pada masa kecilku,
aku belum memahami itu.
Yang kupahami hanya satu hal:
Bahwa bapak adalah cahaya.
Dan setiap pagi, aku hidup di bawah cahayanya.
Malam itu turun perlahan,
seperti tirai yang diturunkan oleh tangan yang lembut
dan sudah terlalu lelah untuk bertanya kepada dunia.
Rumah kami temaram oleh lampu minyak,
dan di atas meja, bayangan bapak memanjang
seperti seseorang yang tengah bersiap
meninggalkan pesan yang tidak bisa dibawa oleh suara.
Ia duduk di hadapanku
tidak lagi seperti gunung yang kukenal,
tetapi seperti nyala kecil
yang memilih untuk menyala dengan tenang
walau tubuhnya mulai padam perlahan.
Aku tahu malam itu berbeda.
Angin mengetuk jendela dengan cara yang tidak biasa,
seperti ingin memastikan
bahwa kami siap untuk menerima sesuatu yang lama ditunda.
Bapak memandangku,
dan di matanya aku melihat dua sungai yang kembali ke muara.
Ia tersenyum
senyum yang sama yang menumbuhkan pagi untukku selama bertahun-tahun.
Namun malam itu,
senyum itu tidak menumbuhkan apa pun.
Ia justru memberi tanda
bahwa sesuatu dalam hidup kami
akan segera berubah arah.
Ia mulai berbicara,
tapi suaranya tidak lagi seperti sungai yang mengalir;
suaranya seperti air terakhir
yang tersisa di telapak tangan seseorang
yang meminum hidup dengan penuh syukur.
Dan di sanalah,
di tengah malam yang ditopang oleh bintang-bintang letih,
bapak mengucapkan kata-kata penutupnya,
yang kurangkai di sini
sebagai puisi terakhir untuknya.
Nak, dengarkanlah…
Jika suatu hari bayanganku tak lagi dudukdi kursi tua depan rumah,jangan tangisi hilangnya langkahku.
Cari aku pada angin yang menyusup jendela,sebab di sanalah suaraku bersembunyiketika dunia terlalu bising untuk mengingatku.
Bila wifi padam dan malam terasa sunyi,ingatlah: aku adalah sinyalyang tak memerlukan jaringan.Aku tersambung padamumelalui cahaya yang pernah kutanamdi dadamu yang kecil.
Jika hidup terasa gelap,jangan cari aku di makam.Temukan aku di dalam senyummu,di dalam sabarmu,di dalam cara kau memandang pagitanpa keluhan.
Aku pergi, Nak,tapi aku tidak hilang.Sebab Tuhan menciptakan bapakbukan untuk tinggal selamanya,melainkan untuk meninggalkancahaya yang terus menyaladi dalam hidup anaknya.
Setelah mengucapkan itu,
bapak tersenyum sekali lagi.
Senyum yang tidak lagi menumbuhkan pagi,
tetapi menutup malam
dengan lembut seperti seorang sahabat
yang menutup pintu setelah pamit selamanya.
Dan malam itulah bab terakhir kami.
Namun bukan bab terakhir dari cahaya yang ia tanamkan.