Runindaru
Di kota yang dibangun dari batu dan doa, di mana atap rumah menumpuk seperti tangga menuju langit, aku menapaki jalan-jalan yang berliku, seolah setiap belokan membawa rahasia yang tak terucapkan. Udara pagi masih segar, menempel di kulit seperti sapaan lembut dari semesta. Debu menari di sinar matahari yang menembus celah-celah jendela, dan di antara langkah-langkah manusia yang tergesa, aku melihatnya pertama kali aku melihatnya, dan sekaligus merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Ia berjalan di antara orang-orang, namun tampak seperti bukan bagian dari dunia ini. Matanya, gelap dan lembut seperti langit malam sebelum fajar, menatap dunia dengan kerinduan yang sunyi. Ada sesuatu di dalam pandangan itu yang memanggil jiwaku, sesuatu yang melampaui kata-kata dan hukum manusia.
Aku berdiri terpaku, dan hatiku berbisik: “Inilah cinta bukan cinta yang memerlukan janji atau kata, tetapi cinta yang menembus dunia dan membebaskan jiwa.”
Ia menoleh sekilas, dan aku merasa seolah seluruh alam ikut menahan napas. Senyumnya sekilas, lembut, dan tak berniat meremukkan segala tembok pertahanan yang aku bangun di hati. Di dalam senyum itu ada kesedihan yang samar, namun bukan kesedihan yang memenjarakan; ia adalah kesedihan yang memanggil, yang membangkitkan kerinduan untuk memahami dan melindungi.
Aku ingin mendekat, namun kaki ini terasa berat, seolah terikat oleh rantai tradisi yang menempel pada diriku sendiri. Kata-kata yang ingin kuucapkan macet di tenggorokan, tidak mampu melintas batas manusiawi. Aku hanya bisa menatap, dan dalam diamku, aku menulis surat yang tidak pernah aku kirim, puisi yang hanya dimengerti oleh hatiku.
“Engkau adalah rahasia yang dibisikkan angin pada daun. Engkau adalah cahaya yang menembus kabut hatiku. Dan aku hanyalah jiwa yang ingin terbang bersamamu, walau dunia tidak mengizinkan.”
Hari-hari berikutnya adalah pengamatan dalam diam. Aku melihatnya dari jauh, ia tertawa dengan teman-temannya, menundukkan kepala saat daun-daun jatuh, membelai bunga yang mekar dengan jari-jari yang lembut. Setiap gerakan adalah musik yang tidak terdengar oleh telinga manusia, tapi terdengar jelas oleh jiwa. Aku belajar membaca puisi dalam langkahnya, membaca doa dalam tatapannya, dan merasakan bahwa cinta bukanlah memiliki, tetapi memahami dan membebaskan.
Pada satu pagi yang sepi, aku mendekatinya dengan keberanian yang baru kumengerti, keberanian yang lahir dari keinginan untuk melihat jiwanya bebas. Ia menatapku, dan aku merasakan kehangatan dan ketakutan sekaligus.
“Apakah kau… sendiri?” tanyaku, suara ini terdengar asing di telingaku sendiri, namun jujur.
Ia tersenyum samar, dan suaranya lembut seperti air yang mengalir di sungai kecil:
“Aku… aku selalu sendiri, meski dikelilingi oleh orang. Dan aku takut, takut kehilangan diriku jika aku membiarkan hati ini… terbuka.”
Aku menunduk, dan hati ini bergetar. “Cinta bukan penjara,” bisikku dalam hati, “dan bukan juga kepatuhan. Cinta adalah sayap. Ia menuntun jiwa, bahkan ketika dunia menuntut tunduk.”
Di saat itulah aku menyadari cinta yang sejati tidak bisa ditentukan oleh tradisi, oleh hukum manusia, atau oleh waktu. Cinta adalah suara langit dalam diri manusia, yang memanggil jiwa untuk terbang lebih tinggi, untuk melihat segala sesuatu dengan mata yang baru.
Ia berjalan pergi, meninggalkan aku dengan perasaan yang campur aduk: rindu, kagum, dan sedih. Namun dalam kepergiannya, aku merasakan janji yang tak tertulis: bahwa cinta ini, meski terhalang oleh dinding manusia, akan tetap hidup. Aku menulis dalam hati:
“Kau adalah bayangan di pagi hari, dan aku adalah matahari yang diam-diam mengagumimu. Kita tidak bisa bersatu sekarang, tapi jiwa kita telah bertemu, dan itu lebih abadi daripada dunia.”
Dan di kota yang dibangun dari batu dan doa itu, aku belajar pelajaran pertama tentang cinta: bahwa cinta adalah satu-satunya kebebasan yang bisa dimiliki manusia, karena ia membangkitkan jiwa dan menempatkannya di atas hukum dan tradisi. Ia adalah penerbangan, dan penerbangan itu dimulai dari satu pandangan, satu senyum, dan satu detak hati yang berani untuk merasakan.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti angin yang menembus celah-celah kota tua. Aku selalu mencari bayangannya, dan setiap pertemuan, meski singkat, meninggalkan gema yang tak bisa hilang dari hatiku. Ada sesuatu yang menahan diriku dari kata-kata biasa—kata-kata manusia seringkali menodai keindahan yang murni. Maka aku memilih diam, menatap, dan membiarkan jiwa kami berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh hati.
Suatu sore, di taman sepi yang hanya dihuni oleh burung-burung kecil dan bayangan pohon tua, aku melihatnya duduk sendiri. Daun-daun gugur di sekitarnya seperti mata-mata kecil yang menyaksikan kesedihan dan kebahagiaan manusia. Aku mendekat perlahan, suara langkahku hampir tenggelam dalam bisikan angin.
Ia menoleh, dan matanya bertemu mataku. Aku melihat ketakutan yang lembut, tapi juga ada sesuatu yang bersinar: kerinduan untuk dibebaskan dari belenggu yang tak terlihat. Ia menunduk sejenak, dan aku tahu, di balik kepala yang menunduk itu, hatinya sedang berperang.
“Aku… takut,” katanya akhirnya, suaranya hampir seperti doa yang tergagap. “Aku takut kehilangan diriku jika aku mencintai. Dunia ini terlalu keras, dan aku… aku terlalu rapuh.”
Aku menatapnya, dan suara hatiku berkata:
“Jangan takut, jiwa yang murni. Cinta tidak akan menghancurkanmu; cinta akan mengangkatmu di atas dinding yang dibuat manusia.”
Aku menunduk, mencoba menyampaikan apa yang kata-kata manusia tidak mampu ucapkan. “Cinta adalah kebebasan,” kataku pelan. “Bukan kepemilikan, bukan penyerahan diri pada aturan orang lain. Cinta adalah sayap yang membiarkan jiwa terbang di langitnya sendiri, meski dunia menuntut tunduk.”
Ia menatapku lama, dan aku melihat air mata yang nyaris jatuh di ujung matanya. Aku ingin meraihnya, tapi aku tahu, tangan manusia tidak bisa memegang jiwa yang menuntut kebebasan. Aku hanya bisa menatap, dan membiarkan bisikan hati kami menjadi jembatan yang tak terlihat.
“Apakah kau percaya…?” tanyanya perlahan. “Apakah kau percaya bahwa cinta bisa menjadi tempat aman, bahkan ketika dunia menolak kita?”
Aku tersenyum dalam hati. “Aku percaya,” jawabku dalam diam. “Karena cinta yang sejati bukan hanya tentang kebersamaan. Ia adalah keberanian untuk melihat jiwa seseorang bebas, meski kau sendiri tidak bisa melindunginya dari dunia.”
Di taman itu, di bawah sinar matahari yang mulai meredup, aku menyadari sesuatu: bahwa cinta bukanlah pemenuhan kebutuhan manusia, tetapi sebuah panggilan jiwa. Sebuah panggilan untuk hidup, merasakan, dan mengerti. Bahkan dalam kesedihan, dalam ketakutan, dalam perpisahan, cinta tetap menjadi cahaya yang menuntun langkah kita.
Ia menatap daun-daun yang jatuh di antara kami, dan aku tahu ia memahami. Ia tidak bisa berkata-kata, tapi tatapannya adalah jawaban yang paling murni. Kami duduk dalam diam, berbicara melalui suara yang tidak terdengar suara jiwa yang menembus batas manusia.
Malam mulai turun, dan burung-burung kembali ke sarangnya. Kami berdiri, saling memberi senyum yang lembut, seperti rahasia yang hanya dimengerti oleh angin dan pohon. Di malam itu, aku belajar bahwa cinta sejati bukanlah memiliki atau menahan, tetapi memahami dan membiarkan jiwa tumbuh.
Dan aku menulis dalam hatiku:
“Engkau adalah suara yang menenangkan badai di hatiku. Aku tidak bisa memegangmu, tapi aku bisa mengerti. Aku tidak bisa mengubah dunia, tapi aku bisa melihatmu terbang, meski hanya dalam diam.”
Kami berpisah di ambang gerbang taman, namun dalam perpisahan itu ada pertemuan yang lebih dalam dari sebelumnya. Jiwa kami telah berbicara, meski dunia tetap membangun tembok di antara kami. Aku tahu, perjalanan ini baru dimulai, dan badai tradisi serta hukum manusia akan datang. Namun satu hal pasti: cinta kami telah menumbuhkan sayap, dan jiwa kami telah belajar terbang meski perlahan, meski penuh luka.
Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di lorong panjang yang gelap, di mana setiap langkah diiringi bisik-bisik manusia yang tidak terlihat, namun hadir dalam bentuk aturan, tatapan, dan perkataan. Aku menyadari bahwa dunia ini bukan hanya sekadar jalanan, rumah, dan pohon tetapi juga tradisi yang membungkus jiwa manusia dengan kain yang tebal, menutupi cahaya yang ingin bersinar.
Ia hidup di dunia itu, dan aku melihatnya terjebak di antara senyum lembutnya dan tanggung jawab yang tidak bisa ia hindari. Ia adalah bunga yang ditanam di tanah yang keras, di bawah sinar matahari yang hangat tapi sering tertutup awan kehendak orang lain.
Setiap kali aku mendekatinya, aku merasakan tembok yang membatasi kami. Tembok yang terbuat dari harapan keluarga, hukum adat, dan tatapan dunia yang menuntut kepatuhan. Aku ingin memegang tangannya, namun tangan itu seolah terikat oleh rantai yang tak terlihat. Kata-kata yang ingin kuucapkan tersangkut di tenggorokan, dan aku hanya bisa menatap, membiarkan hatiku berbicara dalam diam.
Di suatu sore, aku melihatnya berbicara dengan seorang tua yang duduk di beranda rumahnya. Suaranya rendah, sopan, penuh hormat, namun di matanya ada perlawanan yang lembut sebuah cahaya kecil yang menolak padam oleh aturan manusia. Aku berdiri jauh, menatap, dan hatiku menangkap pertempuran yang tidak terlihat: cinta melawan tradisi, jiwa melawan hukum manusia, kebebasan melawan pengekangan.
Aku menulis dalam hati:
“Engkau adalah sayap yang terhimpit di dalam sangkar, dan aku adalah angin yang ingin membebaskanmu. Namun dunia ini keras, dan sayap tidak bisa tumbuh dengan cepat. Hanya kesabaran dan keberanian yang akan menyembuhkanmu.”
Malam itu, ketika bintang-bintang menebar cahaya di langit, aku menatap rumahnya dari jauh. Aku tahu, tradisi yang menuntut kepatuhan tidak akan pernah tidur. Ia harus menundukkan kepala, memenuhi kehendak, dan menyesuaikan diri dengan dinding yang dibangun oleh manusia. Namun dalam hati yang diam itu, aku melihat sebuah kebebasan yang tidak bisa dirantai.
Aku memikirkan kata-kata bijak yang pernah aku baca: bahwa cinta sejati bukanlah kepemilikan, melainkan kebebasan. Dan di situlah aku belajar sesuatu yang sulit: kadang mencintai berarti menahan diri, memberi ruang, dan tetap melihat seseorang bebas meski hati sendiri terluka.
Setiap pertemuan kami kini lebih singkat, lebih hati-hati. Kami saling menatap dengan rahasia yang hanya dimengerti oleh jiwa. Setiap senyum menjadi doa, setiap kata yang tidak terucap menjadi ikatan yang lebih kuat daripada rantai besi. Dalam diam, kami belajar bahasa baru: bahasa jiwa yang melampaui aturan, hukum, dan tradisi.
Aku duduk di dekat sungai, menatap air yang mengalir, dan aku menulis dalam hatiku:
“Kau adalah air yang menembus batu, dan aku hanyalah sungai yang ingin mengalir bersamamu. Dunia ini menuntut kepatuhan, tetapi jiwa kita menuntut kebebasan. Dan suatu hari, meski lambat, kita akan belajar menari di antara arus-arus itu.”
Tradisi memang keras, tetapi aku mulai memahami bahwa di balik semua aturan, ada cinta yang terluka dan jiwa yang ingin terbang. Aku melihatnya, bukan hanya sebagai gadis yang terhalang oleh hukum manusia, tetapi sebagai jiwa yang merindukan kebebasan. Dan aku tahu, cinta kami harus belajar bersabar, karena jiwa yang bebas tidak bisa diburu, hanya bisa dimengerti.
Di malam yang sunyi itu, aku memejamkan mata dan berkata pada diriku sendiri:
“Cinta kita adalah penerbangan dalam kegelapan. Dunia mungkin menolak kita, tetapi jiwa kita tetap akan menemukan cahaya.”
Waktu berjalan perlahan, seolah menahan nafas setiap kali aku melihatnya. Aku tahu cinta kami bukanlah cinta yang bebas dari dinding dunia, dari aturan keluarga, atau dari kehendak orang lain. Dunia menuntutnya tunduk, namun hatinya tetap menuntut kebebasan. Dan di situlah luka itu lahir luka yang lembut, tetapi mendalam, seperti aliran sungai yang diam-diam menembus batu.
Ia harus menikah dengan orang yang dipilih oleh keluarganya. Aku hanya bisa menyaksikan dari jauh, merasakan setiap detik kepergian yang belum terjadi, dan setiap langkah yang menuju dunia yang bukan milik kami. Dalam kesedihan itu, ada keindahan yang aneh: setiap air mata yang jatuh menjadi mutiara, setiap senyum yang dipaksakan menjadi doa.
Aku menulis dalam hatiku:
“Kau adalah sayap yang patah, dan aku adalah angin yang ingin menolongmu terbang. Tapi dunia ini keras, dan sayap tidak bisa tumbuh dengan cepat. Hanya kesabaran, doa, dan cinta yang murni yang akan menyembuhkanmu.”
Kami masih bertemu, namun setiap pertemuan terasa seperti menggenggam udara. Kata-kata kami berhenti di bibir, digantikan oleh tatapan yang panjang dan doa yang tidak terdengar. Ia tersenyum padaku, meski hatinya menangis. Aku ingin memeluknya, namun pelukan itu bisa menjadi belenggu, dan aku tidak ingin cinta kami menjadi perangkap.
Di taman tempat kami pertama bertemu, aku duduk di bangku kayu yang retak, dan menatap daun-daun yang jatuh di sekitarku. Aku membayangkan ia berada di sana, duduk dengan mata yang basah, memikirkan cinta yang harus ditahan. Aku merasakan hatiku tertarik ke dalam kesedihan itu, tapi juga terangkat oleh keberanian yang tersembunyi dalam hatinya.
“Kau tersiksa oleh dunia ini, dan aku juga,” bisikku dalam hati. “Tetapi luka kita adalah indah. Karena di dalamnya, kita belajar arti cinta sejati: bukan memiliki, tapi membiarkan jiwa terbang.”
Aku menulis surat yang tak pernah akan kuberikan padanya: puisi yang murni, doa yang tak terucap. Aku menulis tentang angin, tentang cahaya bulan, tentang sungai yang terus mengalir, dan tentang hati yang belajar mencintai dalam diam.
Ia adalah bunga yang indah, meski terkoyak oleh musim yang keras. Dan aku belajar sesuatu yang sangat pahit tapi manis: kadang cinta yang paling murni muncul dari perpisahan, dari kesedihan yang tidak bisa diubah, dari keinginan yang tak bisa terpenuhi.
Aku menatap langit malam yang berhiaskan bintang, dan aku menulis dalam hatiku:
“Cinta kita adalah luka yang indah. Dunia menolak kita, tetapi jiwa kita tetap bersatu. Setiap air mata adalah doa, setiap rindu adalah sayap yang menuntun kita menuju cahaya.”
Di malam itu, aku menyadari bahwa cinta yang sejati tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Kadang ia berakhir dengan perpisahan, dengan kesakitan, dan dengan kesunyian yang mendalam. Namun di dalam perpisahan itu ada kebebasan di dalam kesedihan itu ada keberanian; dan di dalam luka itu ada keindahan yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang merasakan.
Dan aku berjanji pada diriku sendiri: meski dunia menolak, meski tradisi menahan, meski jiwa kami terpisah oleh hukum manusia, cinta ini akan tetap hidup. Ia hidup di setiap hembusan angin, di setiap cahaya bulan, di setiap daun yang jatuh di taman tempat kami pernah duduk bersama. Ia hidup di hati kami, tak terlihat oleh dunia, tetapi nyata di langit yang menunggu jiwa-jiwa yang berani terbang.
Hari-hari berlalu seperti aliran sungai yang tidak pernah sama, membawa kami ke titik di mana dunia dan hati bertemu dalam diam. Aku menatapnya sekali lagi, dan aku menyadari sesuatu yang selama ini hanya terasa samar: bahwa cinta sejati bukanlah memiliki, bukanlah menahan, bukanlah kepatuhan. Cinta sejati adalah kebebasan.
Ia berjalan di hadapanku, wajahnya teduh, senyum yang lembut namun penuh doa. Ia tahu, seperti aku tahu, bahwa dunia menuntut kepatuhan, tradisi menuntut tunduk, dan hukum manusia menuntut patuh. Namun di dalam hatinya, ia tetap bebas jiwanya tetap menari, tidak pernah padam oleh aturan yang mengekang.
Aku berkata dalam hati:
“Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta membangkitkan jiwa dan menempatkannya di atas hukum manusia. Dan kau, meski terhalang, adalah bukti bahwa jiwa bisa terbang di antara dinding yang tak terlihat.”
Kami berdiri dalam diam, saling menatap. Ada kesedihan, rindu, dan kerinduan yang belum terucapkan. Tapi ada juga keberanian untuk melihat satu sama lain bebas, meski tangan kami tidak bisa saling menggenggam. Di mata yang basah itu, aku melihat cinta yang tak bisa diukur oleh dunia, cinta yang tak bisa ditangkap oleh waktu, cinta yang melampaui segala batas.
“Cinta kita,” bisikku dalam hati, “bukan tentang kita di dunia ini. Ia tentang jiwa kita yang berani, tentang doa yang tak terdengar, tentang sayap yang terus menari di angin, meski badai datang.”
Ia tersenyum, dan aku tahu, ia mengerti. Senyum itu bukan sekadar senyum manusia, tetapi senyum jiwa yang telah menemukan kebebasannya di tengah belenggu dunia. Aku ingin menahannya, namun aku sadar: menahan adalah bentuk penjara, dan jiwa ini telah belajar bahwa cinta tidak boleh dipenjara.
Malam turun perlahan, menebarkan cahaya lembut bintang yang menjadi saksi. Kami berpisah, namun dalam perpisahan itu ada kesatuan yang lebih dalam daripada apapun yang bisa dimiliki dunia. Cinta kami tetap hidup, bukan di dunia, bukan di tangan yang bisa diraih, tetapi di langit yang menunggu jiwa-jiwa yang berani terbang.
Aku menulis dalam hati:
“Cinta sejati adalah keberanian. Keberanian untuk mencintai tanpa memiliki, untuk merindukan tanpa menuntut, untuk membiarkan jiwa terbang meski dunia menolak. Dan kita, meski terpisah, telah menemukan langit kita sendiri.”
Di malam yang sunyi itu, aku belajar bahwa kebebasan jiwa lebih berharga daripada semua pengakuan dunia. Dan cinta, ketika murni, tidak akan pernah hilang. Ia hidup di setiap hembusan angin, di setiap cahaya bintang, di setiap doa yang jatuh di bumi.
Kami berpisah, namun cinta itu tetap ada, seperti air yang mengalir di sungai tanpa henti, seperti angin yang menyentuh daun, seperti cahaya yang menembus kegelapan. Dan aku tersenyum, karena meski dunia menolak, meski tradisi menahan, jiwa kami tetap terbang, bebas, dan penuh cinta.
Di balik dinding dunia,
di antara bisik tradisi dan hukum manusia,jiwa kita belajar terbang.
Cinta bukanlah kepemilikan,
bukan juga penahanan,
ia adalah angin yang menyapu debu hati,
dan cahaya yang menembus kegelapan.
Kau adalah daun di sungai yang terus mengalir,
aku adalah angin yang ingin menemanmu,
meski sungai itu membawa kita jauh,
meski dunia menutup mata.
Luka kita adalah mutiara,air mata kita adalah doa,
dan rindu yang tak terucap
adalah sayap yang mengangkat jiwa.
Biarlah dunia menuntut kepatuhan,
biarlah tradisi membangun tembok,
karena di langit yang tak terlihat,
jiwa kita bebas…
dan cinta kita abadi.